Home
Read, See The World [entries|archive|friends|userinfo]
jendela dunia

[ userinfo | livejournal userinfo ]
[ archive | journal archive ]

Jurnal baru dari GIP [Apr. 12th, 2005|09:35 am]

urfie
(cross-posting di jurnal urfie)

Dua minggu lalu dikasih sama adek-adek SMU sebuah jurnal baru, terbitan GIP. Judulnya Al Insan.
Jurnal ini terbit setiap 4 bulan sekali dan saat ini baru sampai edisi pertama. Bahasannya tentang Al Qur'an dan upaya menanamkan keraguan terhadap ayat-ayatnya. Judul tepatnya sih "ALQur'an dan serangan orientalis".

Tadinya sih nggak gitu tertarik baca, habis kayaknya kok berat banget.
Tapi begitu baca paragraf pertama dari tulisan pertama, terus nggak bisa berhenti sampai akhirnya 'berhasil' tamat tiga artikel sekaligus. Lumayan.. :)

Tulisan pertama intinya tentang apa saja upaya yang udah dilakukan kaum orientalis untuk membuat kita ragu terhadap kebenaran mutlak Al Qur'an. Dari situ baru tahu (kesian deh gue), kalau orientalis itu sudah sejak lama berusaha menulis 'revisi' terhadap Al Qur'an kita itu, bahkan sudah banyak yang terbit dan dipakai 'tadarusan' oleh golongan-golongan tertentu. Para orientalis itu berusaha menerapkan metode kajian-kajian ilmiah untuk menguji kekonsistenan Al Qur'an, dan mereka mengklaim telah menemukan banyak kelemahan. Mereka juga memperbandingkan riwayat pewarisan Al Qur'an dengan kitab-kitab lain, yang sudah banyak mengalami perubahan dan penulisan ulang. Alasannya adalah, kalau kitab-kitab itu saja sudah jelas ketidakmurniannya, maka mustahil Al Qur'an itu bisa dijaga kemurniannya. Dari situlah kemudian dibuat revisi-revisi yang mereka klaim sebagai versi yang lebih benar.

Lalu untuk melengkapinya, dibahas juga kenapa pendapat orang-orang itu tidak bisa dibenarkan.
Diantaranya yang paling mendasar adalah, karena mereka memandang alQur'an sebagai sebuah transkrip atau dokumen tertulis, sedangkan AlQur'an itu sebenarnya bukan transkrip, melainkan recital atau bacaan.
Maka jelas dong, metode itu nggak akan bisa membuktikan keaslian alQur'an. Mereka lupa, atau pura-pura lupa, bahwa pewarisan AlQur'an itu dilakukan tidak saja melalui penulisan, tapi juga penghafalan yang dijaga dengan benar-benar ketat, mulai dari makhraj, tajwid, dan lain sebagainya.

Itu dulu deh ya.. kapan-kapan dilanjutkan lagi.
Mo presentasi nih, tapi belom siap *hiks*
linkpost comment

Keajaiban Surat Cinta [Mar. 18th, 2005|08:02 am]

msudiarsih

"surat-surat kepada anggota keluarga memang lebih dapat mencerminkan suasana ikatan hubungan keluarga, beserta permasalahannya. meski kadangkala tampak gambaran tentang lingkungan dan situasisekitar penulis dan penerima surat, ini tergantung dari tali emosi si antara keduanya." begitulah kurang lebih pendapat Mona Lohandua selaku sejarawan, peneliti pada Arsip Nasional RI mengenai kumpulan surat cinta di buku keajainan surat cinta terbitan tarbawi.

membaca buku ini begitu membangkitkan perasaan haru biru mengetahui ekspresi para pejuang kepada orang-orang terdekatnya. tidak hanya kepada istari tercinta, tapi juga kepada anak-anak dan anggota keluarga yang lain. kesibukkan mereka menegakkan prinsip yang mereka pegang teguh, tidak lantas menyebabkan mereka -pejuang- kehilangan rasa romantisme dan kelembutan yang seakan jauh dari karakter utama mereka sebagai pejuang. banyak hikmah yang bisa dipelajari, dan kuranglah rasanya kalo belum pernah baca buku ini. nah, berikut petikan-petikannya:

SURAT BUNG TOMO BUAT ISTRINYA

tina adiekku sayang,

tiada jalan yang harus kita tempuh, selain mohon pertolongan TUHAN YANG MAHA KUASA itu. sembahyang tahajud malam hari, seikhlash-ikhlashnya, sekhusyuk-khusyuknya. insya Allah pertolongan akan datang... ***

bukan hanya silver lining-Nya yang selalu saya lihat, tetapi sebagaimana yang saya katakan berkali-kali: HIKMAH peristiwa yang menimpa kita kali ini. jauh dari padamu aku menjadi benar-benar kembali mencintai dirimu seperti bila aku dulu di Sidoarjo, sedang mandi, dan dikala itu terbayang dirimu... ***

kita tahu betapa manusia-manusia yang ingin mencari popularitas kadang-kadang berbuat amoral, membeli "teman" dengan menghamburkan uang negaradengan menyebarkan fitnah dan mempergunakan cara-cara kotor yang lainnya... ***

yah, ini dulu ntar lain waktu disambung lagi, hhhh....

 

 

linkpost comment

Gadis Cilik Di Jendela [Jun. 13th, 2004|10:55 am]

msudiarsih

Mungkin bukan waktu yang tepat untuk nyeritain buku ini, Karena originally, udah diterbitin dari penulisnya langsung tahun 1981. sementara aku baru selesai baca buku ini di awal tahun 2004. Tapi karena isinya yang cukup menarik, terutama untuk seorang pendidik, maka mengetahui isinya menjadi penting.

Buku karangan Tetsuko Kuroyanagi ini mengisahkan tentang perjalanan Totto-chan –yang tidak lain adalah diri penulis sendiri- mengenyam bangku sekolah. Keluguan, kecerdikan, keingintahuan, dan sedikit kenakalannya membuat Totto-chan harus dikeluarkan dari sekolah pertamanya dan pindah ke sekolah Tomoe Gakuen. Di sekolah dengan lokomotif sebagai kelas-kelasnya itu, Totto-chan bertemu dengan seorang kepala sekolah bijak dan berjiwa pendidik sejati bernama Sosaku Kobayashi. Cerita-cerita didalam buku ini selanjutnya, banyak menceritakan tentang pelajaran-pelajaran berharga dari Kobayashi kepada Totto-chan

Di sekolah itu setiap anak bebas memilih pelajaran apa yang akan dipelajainya terlebih dahulu. Di awal jam pelajaran pertama, Guru membuat daftar semua soal dan pertanyaan mengenai hal-hal yang akan diajarkan hari itu. Guru akan mendatangi murid jika diminta dan menjelaskan setiap hal sampai anak itu benar-benar mengerti.

Dalam pelajaran musik di sekolah, anak-anak bebas menulis di lantai dengan kapur pada posisi duduk maupun berbaring. Setalah pelajaran selesai, semua anak harus membersihkannya seperti semula. Bukan pekerjaan ringan membersihkannya kembali, tetapi hal ini menyadarkan anak-anak untuk tidak mencoret-coret di sembarang tempat. Oleh karena itu, mereka tak pernah mencoret-coret di tempat lain kecuali di aula.

Pada waktu makan, Kobayashi akan bertanya apakah makanan yang dibawa anak-anak dari rumah terdiri atas “sesuatu yang dari laut dan sesuatu yang dari pegunungan”. Hal ini agar anak-anak terbiasa mengkonsumsi beraneka jenis makanan dari berbagai sumber; nabati dan hewani (seperti pesan gizi: “makanlah makanan yang seimbang dan beraneka”).

Di suatu acara makan siang, Kobayashi meminta anak-anak secara bergantian berdiri di tengah lingkaran dan menceritakan tentang sesuatu kepada semua yang hadir. Sebagian besar anak-anak bersedia. Walapun di Jepang biasanya diajari untuk tidak berbicara waktu makan, tapi pengalaman Kobayashi di luar negeri mendorongnya untuk mengajari anak-anak makan tanpa tergesa-gesa dan mengobrol santai. Disamping itu, Kobayashi berpikir bahwa penting bagi mereka untuk berlatih berdiri di depan orang banyak dan mengungkapkan gagasan mereka dengan jelas dan bebas tanpa rasa malu.

Suatu hari Totto-chan diminta Kobayashi untuk tidak lagi memakai pita rambut yang didapatkannya dari Bibi. Hal ini karena salah satu teman Totto-chan merengek-rengek minta dibelikan pita serupa. Kobayashi keluar masuk toko untuk mencari pita tersebut, tapi tidak menemukannya. Bayangan Kobayashi yang lelah keluar masuk toko itu membuat Totto-chan merasa iba. Begitulah, akhirnya Totto-chan rela untuk tidak mengenakannya lagi dan mengikatkannya hanya pada boneka beruang kesayangannya di rumah. Sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana memahami masalah orang lain dan berusaha membantu, seberapapun usianya.

Wah, pokoknya masih banyak pelajaran berharga lain tentang bagaimana mendidik anak dengan gaya yang lebih casual tapi penuh makna, lewat buku ini.
link3 comments|post comment

Practising Health For All [Jun. 12th, 2004|04:29 pm]

msudiarsih

MAAF, kalau kali ini buku yang kubaca beraroma nafas LSM banget, terutama tentang model-model program. Benar, jikalau buku ini harusnya jadi rujukan untuk implementasi program kesehatan dan menjadi buku wajib, minimal buat aku, hehe…

Buku berjudul “practicing health for all”karya David Morley et al, dengan penerbit Oxford Medical Publications tahun 1983 didedikasikan untuk World Health Organization (WHO), the United Nations Children’s Fund, termasuk national governments, voluntary agencies dan community organizations. Selain itu, buku ini merupakan bukti nyata bahwa health for all, bukan sekedar sebagai an impossible dream.

Secara garis besar, buku ini berisi pengalaman dari berbagai negara dalam menjalankan program-program kesehatan untuk masyarakat. Tidak kurang dari pengalaman 14 negara yang dipaparkan dalam tiga bagian kategori, yaitu: Political commitment, people’s participation dan program development.

Yang cukup menarik dari buku kolot ini adalah dimuatnya tiga sub-judul tentang Indonesia dari 18 keseluruhan sub-judul yang ada:
The ant and the elephant: voluntary agencies and government health programmes in Indonesia (Mary Johnston) . Daerah sasarannya adalah Banjarnegara dan Solo. Dimulai dari Solo, diperkenalkan sebuah strategi pengumpulan dana sehat(health fund) dari masyarakat. Yaitu sebesar Rp 25 per keluarga (sama dengan 0.5 % dari rata-rata pendapatan keluarga saat itu). Dana ini dan tambahan bantuan dari donatur lain digunakan untuk aktivitas-aktivitas curative-surveillance (pengobatan) dan health-promotive (penyuluhan kesehatan) serta kredit untuk usaha kecil.

Sociopolitical constraints on primary health care: a case study from Indonesia (Glen Williams and Satoto) . Sebuah studi di daerah Jawa Tengah khususnya Banjarnegara dan Sukodono. Studi difokuskan pada implementasi Primary Health Care (PHC), atau –mungkin- kalau sekarang istilahnya PUSKESMAS.

Development from below: transformation from village-based nutrition projects to a national family nutrition programme in Indonesia (Jon E Rohde dan Lukas Hendrata). Daerah yang diobservasi adalah Banjarnegara, Yogyakarta dan Solo. Bahasan utamanya mengenai sosialisasi pentingnya isu gizi, tidak hanya di kota, tetapi di pedesaan lewat sarana “taman gizi” (the neighbourhood nutrition club) , yang -mungkin- sekarang kita kenal dengan POSYANDU.


Ini menandakan bahwa Indonesia telah berupaya sedemikian rupa sejak dahulu untuk mengatasi masalah gizi dan kesehatan. Unfortunately, kurang lebih setahun yang lalu, dalam sebuah media harian, pakar gizi Dr. Hardiansyah mengungkapkan bahwa 25 % anak Indonesia menderita gizi kurang .

So???!!
Mungkin karena tidak adanya good governor atau tingkat pendidikan yang tidak merata atau status ekonomi rendah atau apa yah…
Hmmm, too complicated.
linkpost comment

ADVERSITY QUOTIENT (AQ) [Jun. 9th, 2004|02:58 pm]

msudiarsih

IQ, EQ dan ESQ berada pada kedudukan yang sangat penting. Bahkan menjadi faktor kunci bagi nilai dan arti sebuah kesuksesan. Tetapi AQ merupakan faktor yang jauh lebih penting dari itu semua, karena berdiri di atas IQ, EQ dan ESQ. AQ adalah parameter sejauhmana seseorang mengubah hambatan dan kesulitan yang dihadapi untuk menjadi peluang.

AQ menggambarkan pencapaian kesuksesan hidup seperti mendaki gunung, kepuasan dicapai melalui usaha yang tidak kenal lelah untuk terus mendaki, meskipun kadang-kdang langkah demi langkah yang ditapakkan terasa lambat dan menyakitkan. Mendaki gunung merupakan pengalaman yang sulit digambarkan. Hanya sesama pendaki yang bisa memahami dan merasakan pengalaman itu. Di tengah rasa lega, puas, dan lelah, ada perasaan bahagia dan damai yang sama langkanya dengan udara di gunung. Hanya sang pendaki yang bisa merasakan manisnya kesuksesan itu. AQ membedakan climbers, campers dan quitters. Ketika dalam keadaan sulit, quitters akan menyerah dan campers akan berkemah, sementara climbers bertahan dan terus mendaki.

Di dalam buku itu juga dipaparkan isian kuesioner tentang berapa nilai AQ yang kita miliki. Di Bab terakhir, terdapat cara bagaimana meningkatkan AQ kita, dalam upaya untuk mengup-grade kekuatan kualitas diri menghadapi hambatan untuk dijadaikan sebagai peluang.

Walaupun buku terjemahan ini diterbitkan empat tahun yang lalu (tahun 2000), tapi kok ga terlalu booming ya infonya??? Padahal, menurut saya, bahasan didalamnya nggak kalah penting dengan IQ, EQ dan ESQ yang isunya jauh lebih booming.

Oops! Atau sayanya emang yang nggak ngikutin perkembangan ya, hhhh…
link4 comments|post comment

Martin Lings [Apr. 2nd, 2004|01:53 pm]
blue_goldfish
ada yang pernah baca bukunya martin lings or karen armstrong?
I did, and all i can say just is good
walaupun ada yg sedikit aneh di bukunya martin lings yg ttg Nabi Muhammad
ceritanya ttg Ibrahim, Hajar dan Sarah sedikit beda dengan yg aku baca di sejarah nabi2.
link4 comments|post comment

JD Salinger's Catcher in the Rye [Feb. 25th, 2004|03:07 pm]

urfie
Buku karya JD Salinger ini mm.. apa ya istilahnya, impressive. Sebuah buku yang membuat kita terus berpikir, bahkan setelah beberapa saat selesai membacanya. Di masanya sendiri (ditulis tahun 1951), buku ini menuai banyak kritik dan pujian, sebagian karena isinya yang cukup provokatif dan vulgar di beberapa bagian.
Buku ini dianggap mewakili emosi para remaja di tahun 50-an, apalagi gaya bahasa yang digunakan adalah bahasa anak muda saat itu.

Catcher in the Rye makin banyak mendapat sorotan setelah buku ini 'terlibat' dalam pembunuhan John Lennon pada tahun 1980. Ketika itu Mark David Chapman, si penembak, membawa sebuah copy buku ini. Bahkan dalam pernyataannya di hadapan polisi, Chapman menyebutkan, ia merasa sebagian dirinya merasa menjadi Holden Caulfield, tokoh utama dalam Catcher in the Rye.

Sejujurnya, awal ketertarikan saya untuk membacanya pun tak jauh dari kontroversi ini. Fakta tadi ada disebut dalam film Conspiracy Theory (Mel Gibson & Julia Roberts), bahkan Gibson dalam film itu lebih jauh mengatakan bahwa polisi juga menemukan buku ini ketika menggeledah rumah Lee Harvey Oswald (penembak JFK). Dari situlah timbulnya rasa penasaran saya tentang novel ini.

Buku ini berkisah tentang perjalanan psikologis Holden Caulfield, seorang remaja usia 16 tahun, dalam prosesnya menuju mental breakdown. Kisah yang hanya terjadi dalam beberapa hari ini terasa 'melelahkan' karena di dalamnya kita dibawa menyelami badai emosi Holden.

Untuk yang sedang mencari bacaan yang agak 'beda', buku ini mungkin bisa jadi alternatif. It's another book that reminds us about how painful it is sometimes to grow up.

Sebuah ulasan yang cukup mendalam tentang buku ini dapat dibaca disini
linkpost comment

Jadie... [Feb. 25th, 2004|02:47 pm]

urfie
Sebuah buku lagi karya Torey Hayden yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, masih terbitan Qanita.

Sekali lagi Torey mempesona kita dengan petualangannya menghadapi sekelompok anak dengan kebutuhan khusus. Kali ini tokoh utamanya, Jadie, seorang gadis kecil yang tak kalah mempesona dalam kesulitan-kesulitannya. Menolak berbicara, menolak berinteraksi, dan bahkan ketika Jadie mulai terbuka, saat itu justru mimpi buruk yang tak terbayangkan dimulai.

Membaca buku ini, sekali lagi kita dibawa untuk menyelami perjuangan seorang guru dalam 'meraih' anak didiknya, dan kemudian membawanya ke masa depan yang lebih baik.
link1 comment|post comment

Bukan tentang buku, tapi tentang menulis buku [Jan. 19th, 2004|04:42 pm]

nurafiati
----dari sebuah milis (cross posting dari jurnal bintangkecil) ----
Spiritual Writing (Jalan Lain Membangkitkan Kehebatan)
Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Berapa lama waktu yang kita perlukan untuk menyelesaikan satu buku?

Agar Cinta Bersemi Indah saya selesaikan dalam waktu satu bulan. Buku lainnya ada yang rampung dalam waktu 2 minggu, 12 hari, 6 hari dan ada juga yang selesai dalam waktu tiga hari. Umumnya saya menulis buku sambil tetap melakukan berbagai aktivitas. Bahkan kadang saya menulis di tengah aktivitas yang sangat padat.
spiritual writing )
linkpost comment

Surat Cinta Pupa [Dec. 19th, 2003|09:09 pm]

msudiarsih
[mood | calm]

Waktu SMP, momen yang paling indah adalah saat istirahat siang diisi dengan ngebaca majalah ato novel plus dengerin radio. Tapi waktu di SMA, saya malah ninggalin semua bacaan cerpen dan novel. Bahkan saya berpikir bahwa membaca 2 jenis karya sastra itu terlalu ringan, jadi selama SMA, saya hampir ga pernah ngebaca cerpen dan novel (walaupun ga juga baca buku yang berat).

 

Nah, keinginan itu akhir-akhir ini malah muncul. Beberapa bulan terakhir, koleksi (walaupun cuma dikit, kan ga pa apa disebut koleksi...) saya malah cenderung membeli lebih banyak cerpen dan novel.

 

Yang masih teringat dikepala saya sekarang adalah buku tipis banget yang judulnya "surat cinta Pupa". Saya bilang tipis banget, karena emang cuma butuh waktu kurang dari 40 menit untuk ngebaca 1 buku itu. Harganya, kalo ga salah, ga lebih dari 12 ribu, termasuk murah kan tuk harga buku sekarang ini?? Buku ini cuma berisi kumpulan surat-surat Pupa (Pupa adalah panggilan dari nama lengkap Mea Culpa) ke Wahyudi (nama penulis yang berasal dari Yogya) yang disampaikan dengan gaya santai (khas orang Yogya, tapi cukup menggelitik dan kadang menyindir halus) dan mudah dimengerti. Kebetulan saya juga ga pernah ngebaca serius buku sejenis, maksudnya yang ber'warna' sama, semisal kumpulan surat kartini "habis gelap terbitlah terang" yang asli, ato kumpulan surat-surat cinta karangan Kahlil Gibran. Jadi saya ga bisa ngebandingin dari segi tampilan (gaya penulisan) maupun isi.

 

Tapi buku itu buat saya memiliki sebuah 'penyampaian ide' yang cukup kreatif. Semua isi dari buku itu adalah surat dan karikatur, yang mungkin ngegambarin suasana hati dari penulis surat maupun penerimanya. Dari rangkaian surat-surat itu, terkisah sebuah cerita dan pergolakan batin serta sebuah nasihat yang cukup punya muatan relijius kental. Ekspresi Pupa yang mencoba memberikan respon atas 'emosi' yang disampaikan Wahyudi, tertuang dalam kata-kata yang 'wajar'.

 

Saya ga tau harus mengungkapkan apa selain kata wajar, karena sepertinya (dari serangkaian surat itu), Pupa merespon positif gejolak emosi Wahyudi, tapi disampaikannya dalam nasihat-nasihat halus yang menggiring si penerima surat (Wahyudi) untuk tidak berharap kepadanya, bahkan mengingatkanya akan cinta sejati kepada sang Khalik. Pupa memang -seperti- berniat untuk menjadikan jalinan hubungan itu sebagai sarana menyeru wahyudi untuk mengarahkannya kepadaNya

 

Tidak terlalu jelas akhir dari cerita itu, apakah Wahyudi benar-benar 'terarahkan' menuju apa yang Pupa maksud. Yang jelas, diakhir buku itu Wahyudi menyesali hubungan mereka, karena kemudian tidak berlanjut kepelaminan

 

Terlepas dari boleh tidaknya surat menyurat dengan lawan jenis yang memiliki 'kecenderungan', saya menilai ide mengumpulkan surat (ga harus surat cinta tentunya, bahkan mungkin kumpulan sms ato apalah..) yang terangkai menjadi sebuah kisah, bisa menjadi pelajaran yang tidak terlalu berkesan menggurui tapi bisa sangat menyentuh...

(astaghfirullahal'azdim..)

link1 comment|post comment

Buku Dave Pelzer [Dec. 12th, 2003|04:08 pm]

nurafiati
[mood | cold]

Membaca buku Dave Pelzer: Help Yourself, Finding Hope, Courage and Happiness; bagi saya seperti membaca sebuah biografi dengan banyak pengalaman hidup. Dave Pelzer sendiri sebelumnya sudah mengeluarkan buku A Child Called It (di Indonesia sudah beredar dengan judul yang saya lupa terjemahannya), The Lost Boy dan A Man Named Dave. Tiga buku ini belum pernah saya baca, tapi membaca buku Help Yourself, cukup memberi gambaran tentang isi bukunya yang lain.

Buku Help Yourself sebenarnya tidak berbeda jauh dengan buku pengembangan diri lain seperti buku Richard Carlson (seri Don't Sweat Small Stuff) atau buku Steven Vannoy (pengarang 10 greatest gift). Perbedaan paling pokok yang bisa dirasakan mungkin karena latar belakang masa kecil Dave Pelzer yang membuat bukunya jadi terasa lebih mengena. Biasanya dalam awal-awal bab diceritakan pengalaman-pengalaman yang melatarbelakanginya. Bisa dibilang, bukunya menarik karena ada contoh hidup yang menginspirasikan. Bagian menarik lainnya, di bagian akhir tiap bab ada Help Yourself Reminder. Semacam kesimpulan dari apa yang sudah diungkapkan dalam bab itu dalam bentuk poin-poin supaya mudah dihapal. Tapi secara umum, apa yang ditulis oleh Dave Pelzer mungkin bisa saya katakan 'biasa aja' karena banyak bagiannya yang sudah diungkapkan juga oleh penulis-penulis yang lain.
link2 comments|post comment

Little Prince [Dec. 9th, 2003|03:44 pm]

urfie
Apa persamaan buku Sheila, Kenangan yang Hilang dan Rahasia Embusan Angin ? Well.. ada beberapa; keduanya diterbitkan Mizan, dua2nya berkisah tentang perjuangan mengarungi masa remaja, dua2nya belum lama saya baca, dan dua2nya mengutip buku Little Prince.

Saya nggak akan membahas tentang dua buku yang pertama, nggak sekarang :), tapi yang terakhir. Little Prince, karya Antoinne de Saint-Exupery. Ini buku yang "segar". Menghadirkan cara pandang yang .. mm.. apa ya, polos barangkali, tentang dunia. Rasanya kita dibawa untuk melihat betapa naif sebenarnya kita sebagai orang dewasa, dan betapa indahnya dunia ini jika kita pandang dengan kacamata jernih seorang anak. Buku ini jadi istimewa karena bisa menyampaikan hal-hal yang 'dalam' dengan bahasa sederhana, dan tidak berkesan menggurui. Rasanya buku ini bisa dibaca oleh (atau dibacakan untuk) anak-anak maupun dewasa. Kalo istilah filmnya, untuk semua umur gitu :)

Bagian yang paling mengharukan, menurut saya, bagian yang dikutip di buku Sheila, Luka hati seorang gadis kecil, yaitu ketika pangeran kecil bertemu dengan rubah yang meminta untuk dijinakkan. Menyentuh banget. Karena bagian itu berbicara tentang cinta barangkali ya :)

~urfie
link3 comments|post comment

May dan Asad [Dec. 5th, 2003|03:05 pm]

urfie
[music |.. Mudah2an berhasil posting ...]

Crossposting dari jurnal sendiri ya..

Saya lagi baca bukunya Karl May yang judulnya Dan Damai di Bumi. It's so engaging, sampai-sampai gak bisa setop bacanya, tapi karena bukunya tebel banget (sekitar 600 halaman, ukuran buku tulis, dengan font yang lumayan kecil dan rapet), jadi pas halaman 300 istirahat dulu. Habis itu pindah ke buku lain, Road to Mecca karangan Muhammad Asad.

Dua buku itu punya banyak kesamaan. Keduanya isinya cerita perjalanan, dan keduanya berkisah tentang kegelisahan sang penulis, melihat betapa banyak orang memandang dunia ini dari balik prasangka. Jika May menggugat prasangka dunia barat terhadap dunia timur (dan sebaliknya, prasangka timur terhadap barat), maka Asad menunjukkan prasangka barat terhadap Islam. Mungkin karena mereka menulis buku itu dalam masa yang berbeda, maka kondisi dunia pun sudah berbeda. Ketika May menulis bukunya (sekitar tahun 1900) dunia ini masih bener2 terbagi menjadi Barat dan Timur, dan masing-masing (Barat dan Timur itu tadi) memiliki prasangka negatif tentang yang lain. Sedangkan ketika Asad mencatatkan karyanya, sekitar tahun, pandangan barat mengenai timur sudah banyak mengalami perbaikan, walaupun prasangka itu sedikit banyak tetap masih ada, Barat sudah lebih bisa melihat dunia timur dengan jernih dan bahkan mempertimbangkan untuk mengambil hal-hal baik darinya. Namun tidak demikian halnya dengan pandangan mengenai Islam.

Dalam pengantar buku itu disebutkan, sebuah percakapan dengan koleganya mengenai hal ini telah menggerakkan hatinya untuk menuliskan catatan perjalanan, tidak hanya ke Mekah seperti yang tertulis dalam judul, melainkan juga ke kedalaman pemahaman mengenai Islam, sebelum akhirnya memasuki Islam itu sendiri, sebagai seorang Muslim.

I really enjoy reading both books, dan kenyataan bahwa saya membacanya bersamaan bukan cuma kebetulan. Buku Asad sudah pernah saya baca, berulang-ulang, sekitar 5 tahun yang lalu dan sampai sekarang saya masih ingin membacanya lagi. Sayang buku saya itu sekarang entah dimana. Ketika saya beli buku Karl May, saya juga 'nemu' bukunya Asad (psstt.. nemunya di rak buku kakak saya, jadi saya ceritanya lagi nyulik buku nih). Jadi dua-duanya saya bawa lah ke jakarta.
Setelah dibaca ulang, saya baru ngeh, ternyata, Asad pun termasuk penggemar "Petualangan si kulit merah karangan Karl May". Mungkin itu sebabnya ada sesuatu yang rasanya .. hmm.. gimana ya nyebutnya, se-rasa barangkali. Terutama cara Asad menggambarkan teman seperjalanannya yang native Arab, Zaid, terasa ada kemiripan dengan gambaran May mengenai Sejjid Omar. Tapi mungkin juga persamaan itu disebabkan karena memang pribadi-pribadi arab ketika itu memang demikian; gagah, penuh kebanggaan sebagai seorang Muslim dan sebagai seorang arab, serta cerdas dalam kesederhanaannya.

Oh ya, perbedaan terbesar dari dua buku itu adalah, buku Asad adalah biografi, jadi menceritakan pengalamannya sendiri tanpa menambah atau mengurangi, sedangkan buku May adalah sebuah novel, jadi meskipun based on his own journey, tapi bukan sepenuhnya didasarkan pada kejadian nyata.

Salah satu hal yang berkesan pada saya, kedua pengarang sama-sama jatuh cinta kepada alam. Kalo Karl bekisah dengan penuh kecintaan mengenai laut, maka Asad mengungkapkan kegagumannya kepada padang pasir.

More on this later.. now I gotta go back to work :)
linkpost comment

Sirah Nabawiyah [Dec. 5th, 2003|03:19 pm]

nurafiati
[mood | amused]

Saya ingat membeli buku Sirah Nabawiyah karangan Shaikh ShafiyyurRahman Al Mubarakfury tahun 1997. Berikut ada resensi buku yang saya kopi dari plaza eramuslim (sebetulnya bukan resensi, tapi lebih sebuah deskripsi singkat tentang buku ini).

Buku ini adalah pemenang pertama sayembara penulisan Sirah Nabawiyah yang diselenggarakan oleh Rabithah Alam Islami yang berkedudukan di Mekkah al-Mukarramah Saudi Arabia. Penulisnya, Syaikh Syafiyyur-Rahman al-Mubarakfury, seorang ulama India yang berbasis salafiyah tablighiyah harakiyah sehingga memberikan sentuhan ashalah (orisinalitas), ruhiyah (spiritual) dan waqi’iyah (actual) pada buku ini. Penerjemahannya pun digarap dengan sangat hati-hati, tidak terburu-buru dan menjaga suasana da semangat buku aslinya. Semoga para pembaca buku ini akan tersemangati untuk semakin mencintai Rasulullah SAW disamping mendapatkan gambaran yang semakin untuk tentang peri kehidupan Rasulullah SAW yang serba mengagumkan itu, khususnya dalam pergerakan da’wah menegakkan Islam di muka bumi dan membangun masyarakat yang penuh kedamaian.

Ada sebuah buku (mungkin bukan sebuah karena setau saya satu paket buku terdiri dari 2 jilid), yang judulnya mm... kalau tidak salah... Muhammad Seorang Pedagang. Buku ini pernah menjadi bahan pembicaraan di pesantren Daarut Tauhiid Bandung karena mengupas sisi kehidupan Rasulullah sebagai seorang entrepreneur. Pengarangnya seorang pengusaha Indonesia (lupa namanya, tapi saudara kandung Dewi Motik kalo tidak salah). Saya tertarik untuk membaca, bukan membeli karena harganya diatas 100rb waktu tahun 2001. Coba mencari infonya via internet, ternyata belum menemukan juga. Lain kali mungkin..

Saya ingin sekali menjadikan buku sirah nabi menjadi rujukan yang penting. Tapi sayangnya sampai hari ini, buku itu masih teronggok rapi di tempat penyimpanan koleksi buku-buku saya dan masih juga belum selesai dibaca.
link1 comment|post comment

navigation
[ viewing | most recent entries ]

Advertisement